ANDRE JOVANO

ANDRE JOVANO

Selasa, 16 Juli 2013

~~**SUCI ITU BUKAN BENTUK**~~


Suci itu bukan bentuk, Bukan Kitap SUCI, 
Bukan Bunyi-bunyi Suci (Kata-kata) SUCI
Bukan Ular-ular (Nasehat) SUCI,
Bukan Ajarab SUCI,
Bukan Petunjuk SUCI,  
Bukan Lambang SUCI, 
Atau Apa saja yang mencari dan menyuarakan SUCI
Maka siapa yang berupaya mencari SUCI  dimulai dari kata-kata bacaan SUCI,
Dari Kitap SUCU, Dari Ajaran SUCI, Dari Petunjuk SUCI, Dari Lambang SUCI,
Sebenarnya keliru. Akibatnya malah kesasar.
 Karena bunyi itu tidak ada hubungannya dengan bentuk. 
Bentuk tidak ada hubungannya dengan bunyi.
Satu dengan satunya (bunyi dan bentuk) mempunyai laku dan lungguh masing-masing

 Umpanyanya akan mencari "PUTIH" Dimulai dari bentuk,
Manakah yang dimaksid "PUTIH" itu..?
Sesungguhnya tidak bisa menyebut dan menunjuk (meraba)
Kalau menyebut Gamping (batu kapur), itu tempat duduknya (lungguhe) "PUTIH" 
Mega yang berarak-arak di angkasa juga "PUTIH"
Beriak air juga "PUTIH"
Bulunya burung kuntul juga "PUTIH"
Semakin mencari semakin tidak ketemu
Semakin anjinggleng (diteliti dengan seksama) semakin kuwur (tidak jelas)
Berahir bingung berhenti di tengah jalan

Apalagi berupaya mencari lungguhnya SUCI
Sampai jambul ubannya tidak akan tertangkap (ketemu) kalau di mulai dari luar
Karena luar itu sudah gelar ada
ADA tersebut gelarnya ( kenyataan) dari angan-angan
Siapa yang mengikuti angen-angen sebenarnya tersesat
Karena angan-angan itu berubah-ubah
Kalau begitu SUCI itu bukan angan-angan, Bukan yang berubah-ubah
Sebenarnya SUCI itu nyata 
SUCI itu kekal
Yang kekal itu URIP (HIHUP)
KUASANYA GERAK (OBAH) 
Berkedudukan di ROSO, MELIPUTI SELURUH TUBUH
KEBERADAANNYA tidak dapat beritakan.
Tidak dapat Dituliskan
Tidak dapat Diajarkan
Tidak dapat Digambarkan
Siapa yg dapat menyatakan (menceritakan) ROSO.?
Siapa yang dapat menggambarkan ROSO.?
Sejagat raya tidak ada yang dapat, kecuali ROSO itu sendiri

Berdasarkan pengertian dan pengaku itu.
Siapa yang menganggap sesudah membaca, mendengarkan,merenungkan dan menceritakan tulisan ini sama aja dengan sudah ketemu ROSO/SUCI, sebenarnya keliru, sangat-sangat keliru
Karena tulisan, Yang terdengar, Kata-kata (Bunyi-bunyi) 
Ajaran, Lambang dan ular-ular (Nasehat),
Itu semua buakan URIP (HIDUP)
Bukan ROSO, Bukan SUCI, Unen-unen (Kata-kata)
Ular-ulat (Nasehat) Ajaran, Lambang,
Yang terdengar itu semua dapat menggerakkan perasaan (Rasa-pangrasa)
Yaitu lakunya angen-angen dan Budi
Sebaliknya ROSO itu bukan terasa sungguh
Karena URIP (HIDUP) itu kuasanya GERAK (OBAH) lungguhnya di ROSO

Bagai mana agar dapat terasa..?
Ya, Harus lungguh bener (Bener-bener menempatkan ROSO)
Bagai mana agar dapat lungguh dan dilungguhi..?
Ya harus ketemu dan dilungguhake (Didudukan dalam RASA)
URIP (HIDUP) bener-bener bagaimana agar ketemu URIP (HIDUP)..?
Tidak mungkin dapat manusia mencari URIP (HIDUP) kalau bukan URIP yang mempunyai kehendak
Karena URIP (HIDUP) itu dekat tidak bersentuhan
Ada tapi tidak Ada, Bersinggah sana di telenge (Pusatnya) ROSO
Padahal baru saja mencari tempatnya ROSO saja tidak dapat
Makanya lalu berhenti menjadi percakapan SUCI
Cita-cita SUCI, dan Angan-angan SUCI para leluhur

Tetapi tidaklah mungkin sekali ada kata (berita) tidak ada yang di beritakan
ADA BUNYI tapi tidak ada bentuknya (Bukan wujud)
ADA BAYANGAN tidak ada jatinya (RAGANYA)
Karena kata-kata UNI (Bunyi) WEWAYANGAN (BAYANGAN)
Keberadaan dari gelarnya ROSO
Karena yang berkata dan yang berbicara itu orang URIP (HIDUP)
Makanya cerita dan UNI (BUNYI) itu sendiri
(BERBUNYI SENDIRI ) itu juga URIP (HIDUP)
Disebut rasanya URIP (HIDUP) karena URIP lungguhing ROSO
(BERSINGGASANA DI ROSO) lalu ada bunyi MIJIL
Di bunyikan di jawa timur, Bunyi tersebut Dibunyikan (Diberitakan)
MIJILNYA RATU ADIL

Apakah RATU ADIL itu..?
Apakah MANUSIA..? bukan
Apakah MOLOEKAT..? bukan
Apakah SETAN..? bukan
Apakah DEDEMIT..? bukan
Sesungguhnya URIP (HIDUP)
URIP (HIDUP) yang MAHA KUASA dan MAHA MENGUWASAI SELURUH JAGAD RAYA
Juga menggumpuli semua yang serba URIP (HIDUP)
Disebut menghidupi semua yang serba HIDUP di seluruh jagad raya
Ya Disebut MAHA SUCI  Ya MAHA KUASA
Sebab singgasananya (lenggahe) Di ROSO/SUCI kekuasaannya OBAH (GERAK)
Apa sebabnya di jawa timur..(jawa wetan).?
Jawa artinya Jumenenge WAHYU
WETAN artinya WIWITAN (permulaan)
Jadi permulaannya bertahtanya WAHYU
Mulai itu URIP (HIDUP) yang memulai ya URIP (HIDUP)
Kemudian bertahun-tahun lamanya aku mencari UNI (BUNYI) mencari UNI (BUNYI)
Tidak tahu apa berguna apa berfaedah itu bukan tujuan
Karena UNI (BUNYI) itu bukan pangesti (TUJUAN)
Yang dibunyikan juga bukan pangesti (TUJUAN)
Ini hanya nama BAHAN agar BERBUNYI kata yang membunyikan
Kalo UNI (BUNYI) sudah mau BERBUNYI
KAN SUDAH MENYATU KEHENDAKNYA SENDIRI





Senin, 08 Juli 2013

mrncari dan bertemu kebenaran

Mati ialah kebaktian yg paling tepat, dan tiada lagi diperhitungkan. 0, Wujil, karena orang kembali ke asalnya. Jika engkau masih memperhitungkan sesuatu tidak akan menemukan yg kau harapkan. Jika engkau ingin menemukanNYA, maka engkau harus mengendalikan Nafsu NafsuMu, Jika engkau telah menemukanNYA, maka kemampuanmu akan manunggal dengan kemauanNYA.

Engkau akan manunggal dengan DIA, hanya namanya saja berlainan, engkau akan menjadi satu dalam RASA dengan DIA dengan berbeda wujud. dalam segala hal engkau akan menunggal dengan DIA, sesudah manunggal, engkau menyerahkan mati dalam hidupmu, kepadaNYA bagimu tidak ada larangan dalam hal pangan dan sandang. semua kehendakMU menjadi satu dengan kehendakNYA. orang yg telah diampuni, tidak boleh memilih maupun membagi dua ( tidak membeda bedakan dalam segala hal ), sesuatu tanda dari menunggalnya kehendak dengan DIA.

Apabila ada orang berkata, "MANUNGGALING KAWULA GUSTI" menyatunya manusia dengan TUHAN, (GUSTI). dari contoh tersebut jelas bahwa yg bersatu itu hanyalah kemauannya atau hanya IRADATNYA. bukan Zat NYA. TUHAN (GUSTI) adalah tidak terbatas, sedangkan manusia adalah terbatas. Tidak mungkin yg terbadas menampung yang tidak terbatas. Tidak mungkin Cangkir teh dapat menampung ait samudra..

Rabu, 28 November 2012

Urip ing ngalam dunya, ora liya mung pinangka kanggo netepi titahing Gusti


Ngelmu iku
Kalakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya budaya pangekese dur angkara
Angkara gung

Neng angga anggung gumulung
Gegolonganira
Triloka lekeri kongsi
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.

Beda lamun kang wus sengsem
Reh ngasamun
Semune ngaksama
Sasamane bangsa sisip
Sarwa sareh saking mardi martatama

Taman limut
Durgameng tyas kang weh limput
Karem ing karamat
Karana karoban ing sih
Sihing sukma ngrebda saardi pengira


Yeku patut tinulat tulat tinurut
Sapituduhira,
Aja kaya jaman mangkin
Keh pra mudha mundhi diri
Rapal makna

Durung becus kesusu selak besus
Amaknani rapal
Kaya sayid weton mesir
Pendhak pendhak angendhak
Gunaning jalma

Kang kadyeku
Kalebu wong ngaku aku
akale alangka
Elok Jawane denmohi
Paksa langkah ngangkah met
Kawruh ing Mekah

Nora weruh
rosing rasa kang rinuruh
lumeketing angga
anggere padha marsudi
kana kene kaanane nora beda

Uger lugu
Den ta mrih pralebdeng kalbu
Yen kabul kabuka
Ing drajat kajating urip
Kaya kang wus winahya sekar srinata

Basa ngelmu
Mupakate lan panemune
Pasahe lan tapa
Yen satriya tanah Jawi
Kuna kuna kang ginilut tripakara

Lila lamun kelangan nora gegetun
Trima yen ketaman
Sakserik sameng dumadi
Tri legawa nalangsa srah ing Pangeran Bathara Karangathara gung

bathara gung
Inguger graning jajantung
Jenek Hyang wisesa
Sana pasenedan suci
Nora kaya si mudha mudhar angkara Tuhan Maha Agung.

Nora uwus
Kareme anguwus uwus
Uwose tan ana
Mung janjine muring muring
Kaya buta buteng betah anganiaya

Sakeh luput
Ing angga tansah linimput
Linimpet ing sabda
Narka tan ana udani
Lumuh ala ardane ginawa gada

Durung punjul
Ing kawruh kaselak jujul
Kaseselan hawa
Cupet kapepetan pamrih
tangeh nedya anggambuh
mring Hyang Wisesa

Jumat, 22 Juni 2012

MENGENAL CAHAYA KEHIDUPAN (NUR RAJAH KALACAKRA)



Merupakan cahaya hidup yang berwujud seperti putaran waktu atau daya kekuatan hidup yang berputar sepanjang masa atau disebut sebagai Pancamaya ( lima cahaya )



Cahaya hidup manusia yang berbentuk Pancamaya yakni : 1. hitam, 2 merah, 3. kuning, 4. putih, 5. abramarkata (gemerlapan)
Dan setiap orang akan mempunyai dominan warna yang berbeda karena tergantung cahaya paling kuat yang sebagai bakat/ kekuatan. Empat warna hitam, merah.., kuning dan putih adalah perlambang hawa nafsu, yaitu  hitam yang menggambarkan watak nafsu rakus, loba, tamak, lapar, haus dan mengantuk, merah yang menggambarkan watak nafsu keras hati, angkaraq murka, cepat marah, kuning yang menggambarkan watak nafsu berkeinginan keras, serba ingin sesuatu, mengumbar kesenangan, putih menggambarkan sifat bijaksana dan keutamaan, cahaya kelima yang seperti zamrud yaitu pancaran cahaya dari bumi  air(banyu) api(geni) angin (bayu) akasa (angkasa) matahari (surya) bulan (candra) dan bintang (kartika) Sedangkan wujud cahaya tunggal tanpa bayangan di dekatnya seperti kumbang yang bertaburan banyak sekali dan itulah cahaya dari kalbu dan batin manusia, dan itu pulalah wujud dari niat, keinginang, dan pemikiran dan kesemuanya ada pada jaman antara(saat sebelum bertindak atau berbuat)

Keadaan cahaya tunggal sebenarnya adalah kebahagiaan sejati, yang merupakan wujud dari sukma luhur yang menghidupi badan wadag manusia yang di sebut juga Hyang Suksma Kawekas yang serba tentram dan bahagia sepanjang masa, selalu segar tanpa minum, kenyang tanpa makan, mengantuk tanpa tidur…inilah yang disebut Sangkan Paraning Dumadi (awal Mula kejadian) Sedangkan kedua lubang hidung itu adalah sarang angin (sumber nafas) dan tirta prawita suci adalah air suci awal kehidupan yang terletak dalam samudera minangkalbu yang bermakna ‘ untuk menemukan sumber awal kehidupan perlu bantuan qalbu/ batin atau matahati kita sendiri.

Siapa yang memerintah dan diperintah , bermakna bahwa dalam tubuh ini ada 2 unsur pokok batin, roh atau nurani yang seharusnya selalu dianut segala pendapatnya karena disanalah kebenaran sejati telah dipertimbangkan. Wujudnya adalah dari keinginan, niat dan pemikiran murnisebelum diolah atau dipertimbangkan oleh akal yang menerima informasi tambahan dari luar. Keputusan situasi batin yang disebut sebagai zaman antara, sebelum diperintahkan otak kepada seluruh badan. Kesatuan tanpa perpecahan yakni; antara perintah otak dan perintah suara hati yang harus dijaga selalu sama. Sebenarnya yang meemrintah dalam diri kita adalah suara hati atau batin, roh kita dan yang diperintah adalah otak dan anggota badan, karena roh dimasukkan oleh Tuhan pada embrio saat berumur 120 hari, oleh leluhur kita juga disebut manunggaling kawula gusti. Roh sebagai gusti yang berujud kesadaran diri, dan badan adalah kawula yang berujud hidup dan kesadaran yang sudah ada sejak manikem ditangkap oleh indung telur dan terus tumbuh menjadi janin dan bayi, dengan segala anasir-anasir yang mempengaruhinya selama dalam kandungan ibu.

Memahami Hakikat Warna Cahaya Hidup 


(1) Cahaya Putih : warna inti pertama yang menyimbolkan manifestasi air, dan memiliki sifat, watak dan kemampuan serat symbol nafsi muthmainah atau spiritual religius, jujur, menerima apa adanya dan kemampuan air ini adalah melarutkan, menghancurkan, daya tairk, angkat, sejuk, menyegarkan, dll. Dan orang yang memiliki daya ini dapat menolong orang lain sesuai dengan sifat air tersebut ( seperti air di belah) Dan untuk memperoleh daya air ini manusia harus memiliki itikad baik yang kemauan mutlak dengan berbagai cara, seperti berendam dalam air jernih yang mengalir selama beberapa periode agar terserap daya air ini ke dalam seluruh jaringan tubuhnya, dan dilakukan secara teratur. Dan pada manusia secara alami sebetulnya sudah tertanam daya ini mulai dari air ketuban yang melingkupi bayi sejak dalam kandungan, air embun khususnya yang berada di ujung ilalang pada siang hari dan tertiup angina dan hanya ada pada masa kemarau, air dalam buah kelapa yang masih muda yang biasanya hanya ada setetes saja , uap air yang terdapat di tutup panic sewaktu menjerang air, atau yang paling mudah adalah endapan air laut yaitu garam dilarutkan kembali dengan air yang telah direbus.

(2) Cahaya Merah : merupakan warna inti kedua yang menyimbolkan manifestasi api, dan mendasari watak, kemampuan serta symbol nafsi amarah, memiliki watak, hidup dinamis, awas, teliti, semangat, ambisi, emosi, pemberontak, iri, dengki, culas, pembohong. Cipta dari daya hidupnya adalah merupakan luapan dari energi yang bergerak bersifat prabawa, mengembangkan, memekarkan dan juga memiliki daya menghancurkan, membasmi, memledakkan, membakar dan biasanya orang yang menguasai energi api ini disebut menguasai biotermis dan daya inilah yang memproses pertukaran zat dalam tubuh sehingga melangsungkan kehidupan dan memperpanjang kehidupan, tetapi juga bisa mengahanguskan, dan menghancurka kehidupan yang lain. Daya energi ini dapat di diserap tubuh pada saat pagi hari ( sejak matahari terbit – 10.00)  daya ini bersifat bioelektronis dan akan membentuk daya biotermis dan biomagnetis. Dengan memusatkan nalar budi, cipta dan batin di sertai nafas teratur dan kontinyu akan sangat bermanfaat bagi kesehatan .

(3) Cahaya Kuning : merupakan warna inti ketiga, yang merupakan manifestasi dari angina dan mendasari sifat, watak dan kemampuan serta symbol dari sufiah dan memiliki watak seni budaya , sopan santun, kasih saying, cantik, rapi, toleransi, manusiawi, semu, palsu, gensi, cabul, boros, konsumtif, daya geraknya sperti angina menghidupi, menumbuhkan, menyatu, membaur, menyusup dan daya penyangga mendorong, membongkar, daya angkat, menembus jaringan, dan orang yang menguasai daya ini biasanya di sebut menguasai daya multikomplek/serbaguna, karena dalam angina terkandung energi uap bumi, energi panas, maupun air dan juga sebagai tenaga penghantar tenaga-tenaga gaib seperti ether, listrik, suara, bau, magic. Cahaya kuning juga bisanya bisa sebagai symbol datangnya wahyu, pulung, keluhuran atau nilai unggul

(4) Cahaya Hitam : merupakan warna inti keempat, yang menyimbolkan manifestasi dari bumi atau tanah dan mendasari watak, sifat dan kemampuan serta symbol nafsi lawwammah yang bersifat produktif, materi, kreatif, inovatif, bisosiatif(mampu memperbaiki system kea rah lebih baik dan mampu mengarahkan potensi lingkungan dengan baik untuk direalisasikan dengan ketangguhan momentum kerja secara tepat ), tega, egois, sadis, jahat, daya cipta suara hatinya menumbuhkan, langgeng serta daya penyangga menghisap, segala sesuatu melebur atau menetralkan tapi juga mematikan. Secara lahiriah sebenarnya tidak tampak tapi sesungguhnya sangat dominant di banding tiga warna lainnya karena merupakan manifestasi pancaran anasir bumi yang ada dalam diri manusia. Dan daya ini diserap tubuh dengan sangat sederhana ; 1. berdiri tegak lurus, 2. rileks, 3. tata nafas diperhalus, perlahan dan teratur, 4. membayangkan wajah sendiri (konsentrasi) 5. menyebut nama Allah memohon anugerah daya inti bumi.

(5) Cahaya Gemerlapan : sinar zamrud merupakan cahaya gabungan (hasil induksi dari cahaya inti yang saling berdempetan sehingga membentuk warna baru sebagai cahaya pamor(campuran). Merah kuning menjadi hijau, hitam putih jadi abu-abu, dst. Walaupun menjadi gabungan namun tetap tergolong sebagai cahaya dominant yang ada dalam alam semesta ini, karena ini merupakan cahaya hidup yang berpengaruh dan berada dalam tubuh manusia , sedangkan sifat dan watak dan kemampuan yang menonjol dari cahaya-cahaya tersebut adalah sebagai berikut 

(6) Cahaya Hijau : merupakan gabungan yang menyimbolkan manifestasi dari anasir tumbuhan, yang mendasari watak atau sifat dan kemampuan; religius, damai, tentram, tenang,dan memiliki daya getar kemampuan menghidupi, berkembang, mengayomi dan daya penyangga menghisap, menyerap segala sesuatu dan menetralkan

(7) Cahaya Biru : merupakan cahaya gabungan yang menyimbolkan manifestasi anasir langit dan mendasari sifat, watak dan kemampuan ; sembada (kuat, kukuh, patuh, layak) terampil, watak kepemimpinan, dan cipta suara hati luas pandangan hidupnya mengayomi, menentramkan, selalu berada di depam, dan daya penyangga meraqngkum segala sesuatu, menyatukan lembut tetapi kuat, tekad kuat.

(8) Cahaya ungu : merupakan cahaya gabungan yang menyimbolkan mafestasi dari anasir langit menjelang pagi antara pukul 03.00 – 05.00, dan mendasari watak, sifat dan kemampuan  hamangku ( melindungi, menjaga) hamengkoni ( melingkupi merangkum dan menguatkan) prabawa, sugestif ( cepat tanggap, kuat pengaruh dan ginugu ( dipercaya dan dianut kata-katanya) Cipta suara hatinya daya getar hidupnya memiliki kemampuan anasir langit pagi hari, yakni ; menyejukkan, perasaaan sesame, menentramkan segala hal, mantap langkah hidupnya dan daya penyangganya adalah membingungkan lawan, mendobrak menghancurkan dan mematikan

(9) Cahaya Abu- Abu : merupaka cahaya gabungan yang menyimbolkan manifestasi dari anasir mega/ awan, dan mendasari watak, sifat dan kemampuan ; mobah mosik (selalu bergerak gerik, berubah-ubah, tidak tetap pendirian, pintar beradaptasi, gampang bergaul, supel. Cipta suara hatinya menggelapkan suasana, menimbulkan saling curiga, mengadu domba dan memiliki daya penyangga memporak porandakan lawan, memanfaatkan tenaga lawan, mengecoh sasaran

Inilah yang sering di sebut Lima Cahaya Hidup dan dalam pewayangan digambarkan sebagai cakra yang mampu melindungi kehidupan manusia bai, jasmani dan rohani



Pengisian Warna Cahaya Hidup pada Manusia


Waktu pengisian cahaya hidup di mulai dari sejak dari janin dan setiap hitungan bulan ganjil dan itu terjadi pengisian kekuatan gaib yang bersifat insani atau proses pendewasaan jiwa, dan penjelasannya sebagai berikut

(1) Embrio pada bulan pertama yang masih berwujud cairan mani yang di saput indung telur dan diliputi oleh cahaya berwarna putih dan diidentifikasi sebagai sinuksman Sukmo Suci keberadaannya dilingkupi sukma suci (ruh Robbi) atau insani dan gerak hidupya di sebut muthma’inah dan daya yang masuk di beri identitas Sang Hyang Maha Suci , sifat hidupnya ibarat air dan bapak ibunya di sarankan untuk berbuat atau bertingkah laku pada kesucian lahir batin karena embrio pada kandungan ibu tersebut akan memberikan pengaruh atau terinduksi pada embrio dan akan muncul kelak setelah anak lahir dan menjadi dewasa dan ini tidak mengenal jarak, waktu, ruang baik sengaja maupun tidak.

(2) Janin usia tiga bulan sudah mulai tumbuh secara fisik dengan tanda-tanda pembentukan organ walalupun masih berwarna merah, inilah yang di maksudkan diliputi cahaya merah yang sinuksman Sukmo Weing atau di sebut Ruh Nurani atau rokhmani, gerak hidupnya di sebut amarah dan di beri identitas Sang Hyang Maha Waseso (yang berkuasa atas hidup) Sifat hidupnya ibarat api karena janin sudah bisa menyerap energi panas dari ibunya ( zat asam, makanan) sehingga dengan masuknya zat dari luar maka terjadi pertukaran zat antar janin dan ibunya dan sisa proses ini akan dikeluarkan dan diserap oleh ibunya untuk ikut di buang diluar tubuh. Zat-zat inilah yang memacu pertumbuhan sel-sel tubuh, termasuk sel otak, sekaligus menyerap getaran sensasi pikiran, jiwa, dan tingkah laku perbuatan orang tuanya yang kemudian menyatu dengan pembentukansimpul-simpul syaraf dalam tubuh dan otak janin. Inilah proses dimana sang bayi mulai merekam segala apa yang dilakukan orang tuanya. Dan perlu kehati-hatian dan kewaspadaan dari orang tua, jangan berangan atau melakukan sesuatu yang negativ

(3)Bayi dalam kandungan pada bulan kelima hampir semua tubuh sudah terbentuk, namun kondisinya masih sangat lemah, dan pada usia ini diliputi cahaya kuning yang sinuksman Sukmo Rasa (nurani cahaya terang) yang disebut Ruh Idlafi /Rokhim ( jiwa yang terhalus yang bisa melihat Tuhan) atau disebut Sang Hyang Maha Luhur. Gerak hidupnya adalah Sufiyah, dan saat ini kondisi jiwanya sudah mencapai ke tingkat budi (bijak) yang berarti sudah dapat mengenali adanya induksi dari lingkungannya. Disarankan pada orang tua agar waspada dan mengkondisikan situasi hidupnya pada hal-hal yang menentramkan, harmonis, rukun, damai, saling mencintai dan menjaga hati masing-masing dan budi pekerti luhur.

(4) Bayi dalam kandungan pada bulan ke tujuh ini sudah sempurna, organ tubuh sudah lengkap dan kuat dan pada usia ini bayi dilingkupi cahaya hitam, yang menandakan cahaya batinnya dan snuksman Sukmo jati (nyata) yang di identitaskan sebagai Ruh Jasadi/ Kodir (berguna pada badan). Gerak hidupnya di sebut nafsi Lawwammah dan diidentitaskan Sang Hyang Moho Langgeng ( maha abadi) Pada usia ini sari-sari makana yang diproduksi dari bumi di serapnya lewat sari makanan yang ada dalam tubuh ibunya dan menjadikannya unsure badaniah semakin sempurna. Bagi yang mengerti ilmu batin , segala organ tubuh yang terbagi dalam kelompok mana sakti yang terbagi sebagai berikut

* Wulu (bulu/rambut), kulit, daging
* Getih (darah), balung (tulang), sumsum
* Otot/urat(pembuluh nadi/darah), bayu (otot besar yang bertenaga)
* Jantung, paru-paru, impes(kandung kencing)
* Kemaras (limpa), usus; kesemuanya berjumlah 14 organ tubuh
Adapun hati dan otak dalam tenaga batin tidak dimasukkan sebagai organ tubuh fisik karena keduanya merupakan singgasana bersarangnya kekautan gaib. Dan sad (keenam) indranya yakni : penciuman pada hidung, pelihat pada mata, pendengar pada telinga, pengecap pada mulut, perasa pada seluruh ujung syaraf bagian luar tubuhnya sebagai alat bantu informative dari kerja otak dan hati juga tidak termasuk sebagai organ tubuh secara fisik. Dan pertumbuhan bayi berada bersifat jasmaniah, sehingga daya serap sang bayi berada pada posisi penyerapan pengaruh luar yang bersifat keragaan dan budaya kerja, dan tinggal menunggu saat kelahirannya.


(1) Bayi pada usia kandungan sembilan bulan sepuluh hari (8 selapan x 35 hari = 280 hari) dan pada saat bayi normal dilahirkan ke duania sang bayi diliputi cahaya Abramarkata, dan pada saat lepas dari pintu gerbang gua garba sang ibu ia langsung sinuksman oleh Sukmo Wicara (ruh pembicara), yang disebut Ruh Robbul’alamin, dan mulai saat itu sempurnalah jiwa dan jasadnya, lahir sebagai anak manusia yang insaniah dan jasadiah memiliki bekal awal batiniah yang baik badan kasar maupun badan halusnya dan disebut sebagai sinuksman Sang Hyang Maha Mulyo (maha mulia) dan gerk hidupnya di sebut nafsi kapawitra. Pada saat kelahiran sang bayi adalah saat yang paling sensitive, artinya jangan sampai lingkungan sekitar semrawut, tidak tenang, tentram. Rasulullah pernah bersabda Kalian kelak di hari kiamat akan dipanggil dengan nama kalian dan dengan nama ayah kalian, maka berikanlah nama itu dengan yang baik-baik ( Nasy’at Al – Masri, 1977 : 41-42) Pada saat pemberian nama itulah terjadi proses ‘geter’ (geletar sinar terang bak kilat yang hanya bisa dilihat oleh orang khusus ) dan ‘pater’ (suara petir yang juga hanya dapat di dengar oleh orang khusus ) sebagai wujud kesaksian alam semesta dan kesaksianNya, dan ini akan sangat berpengaruh pada perjalanan hidup sang anak sampai kematiannya . Dan ini disebut sinuksman Sang Hyang Sukmo Kawekas (sukma terakhir/pamungkas) 



Bekal awal memahami Kekuatan Batin 


Pada saat melahirkan disamping mengerahkan energi fisik juga mengerahkan segala daya/ getar ciptanya; cinta kasih, kebahagiaan, kekhawatiran, cemas, sehingga segala derita, kesakitan yang amat sangat tidak di perdulikannya demi keselamatan dan kelahiran sang anak dan getar cipta inilah yang sebennarnya yang menahan sakit yang teramat hebat ini dan semua ini sudah dalam pengaturanNya , lindunganNya, ketentuaNya. Wujud terima kasih kepada Allah Sang maha Pencipta atas karya ciptaNya yang agung yang telah memberikan kepompong gaib (wadah gaib) kepada sang bayi selama di kandungan ibu yang terdiri dsebelum bayi keluar air ketuban mendahuluinya, maka disebut Kakang (saudara tua), sedangkan ari-ari baru keluar di belakang bayi sehingga disebut sebagai Adhi (saudara muda). Darah ibu yang mengikuti bayi dan potongan puser (pangkal dari usus plasenta/ ari-ari) adalah saudara pengiring atau penyangganya .

Keempatnya di sebut sedulur papat ( empat bersaudara) dan kalmia pancer ( pokok pangkal ) yang sang bayi sendiri, sebenarnya secara lengkap saudara tua (kakang) adalah terdiri dari

(1) Selaput ketuban (saput wungkul) yang dinamakan kakang putih, wujudnya dapat dilihat setelah bayi lahir dan sis a selaput ketuban yang mongering dan masih lekat pada kulit bayi akan berwarna putih seperti bedak
(2) Mar (getar cipta) dan Was (rasa kekhawatiran dan cemas) ibu yang muncul bersamaan saat uwat (mengejan/mengerahkan semua tenaga fisik rohani untuk mendorong sang bayi) yang melicinkan jalan keluar sang bayi melewati pintu gerbang Gua garba ibu.
Sedangkan saudara muda (adik) terdiri seperti berikut
  (1) Ari-ari (plasenta)
  (2) Getih (darah)
  (3) Puser (potongan tali pusat)
  (4) Pancer (baying-bayang sang bayi) 


Sebelum lahir kedunia berdelapan itu telah saling hidup menghidupi dan bersama-sama sebagai openyangga hidup sang bayi selam sembilan bulan sepuluh hari dan mereka juga di karuniani getar/daya hidup olehNya dan secara rohaniah mereka tetap bersama dan berdampingan sepanjang masa.



Inti latifah ( Cakra Besar)


Titik awal kehidupan manusia adalah semenjak dari ayah (sperma) di tangkap oleh indung telur dari ibu, setelah sembilan hari blostoksit terbenam ke dalam dinding rahim dan berkembang menjadi mudghoh (segumpal daging) dan menjadi janin. Dan sejak itulah anak manusia ini mempunyai daya hidup dan kesadaran yang terjadi karena kehendakNya. Daya hidup dan kesadaran inilah yang menjadi inti latifah (kebaikan/kelebihan) yang memiliki jaringaNn sirkuit di seluruh bagian tubuh bahkan pada titik tertentu inti latifah memiliki daya pancar yang lebih kuat di banding bagian lain di tubuhnya. Khususnya titik pusat panca inderanya, pusat dada, pusarnya, bawah pusar, pangkal tengkuk, antara kedua alis mata, ujung lidah, langit-langit dalam mulut, dan klep (sentil) tenggorokannya. Atau yang di sebut pusat prana, cakra, mana, dll. Pada titik itulah gerbang daya tertentu yang memiliki kekuatan khas tertentu pula dan setelah terlatih maka inti latifah akan senantiasa dapat bekerja sendiri secara otomatis, untuk itu seseorang harus memahami dulu 

hal-hal sebagai berikut



(1) Meyakini adanya daya batin dalam diri yang merupakan Rahmat Allah yang maha Esa dan ini merupakan karena kuasaNya

(2) Perlu di pahami bahwa di tengah-tengah otak manusia ada semacam stop kontak yang di gunakan untuk mengalirkan daya gaib yang di tujukan ke mana saja dan diperlukan untuk apa

(3) Biasakanlah untuk hidup dengan berlaku ikhlas , sabar, lahir batin, jujur serta tergantung mutlak pada Tuhan

(4) Senantiasa melaksanakan tafakur, mengheneingkan cipta dan memusatkan segala pikiran sesuai keyakinan masing-masing dan merenungi, mengakui segala daya tersebut agar kunci latifah dapat bekerja sama sebagaimana mestinya.

Daloam pelatihan tata nafas dapat dipilih beberapa sikap tubuh yang paling mudah dan mantap dan bisa tahan lama tanpa merubah posisi, yakni 


(1) Duduk sidhakep asuku tunggal (duduk dengan badan tegak, kaki bersila dan tangan bersedekap )
(2) Berbaring telentang tanpa alas kepala, kaki lurus sejajar dan tangan sejajar dengan badan, telapak tangan menempel pada paha
(3) Duduk di kursi dengan sikap sempurna, punggung tegak, telapak kaki sejajar dan tangan berada di atas kedua paha 



Langkah berikutnya adalah 


(1) Sikap roleks dan pasrah

(2) Pejamkan mata dan panjatkan doa mohon manfaat sesuai iradat (maksud dan tujuan)

(3) tarik nafas pelan sehalus mungkin dan alirkan ke pusat otak(ubun-ubun), hentikan nafas setelah paru-paru optimal tahan selam mungkin, samakan pada saat menarik nafas. Selama tahan nafas terapkan ening pikiran, hati. Nafas dilepas perlahan dari ubun-ubun sampai ke ujung jari kaki

(4) Berkonsentrasilah pada titik-titik cakra dan telapak tangan serta hapalkanlah wajah anda dan bayangkan wajah anda pada saat memejamkan mata

(5) Pada saat menarik nafas untuk yang muslim ucapkanlah cipta batin  Hu  dan ucapkan  Ya pada saat melepaskan nafas.

(6) Mulailah mawas diri dengan menyadari kesalahan-kesalahan diri, kekurangan dan kekhilafan diri

(7) Permohonan pada saat menahan nafas adalah penyerahan dan menggapai kesadaran diri

(8) Memohon keselamatan dunia dan akhirat 

Ilmu tenaga batin dapat di bagikan dalam 2 kelompok 


(1) Tenaga gaib yang berasal dari Tuhan YME yang memang berasal dari sejak masih dikandungan ibu untuk menyangga hidupnya secara langgeng dan di sebut dengan daya kodrat (natural) atau kanuragan
(2) Sisi lainnya di dapat dari tenaga gaib dari luar diri atau pinjaman dari mahkluk halus dan di debut Jaya Kawijayan


Jenis-jenis Daya yang di miliki Manusia


Di bagi dalam 4 jenis dayayang berada dalam diri manusia , yakni

  (1) Daya dari pusat atau latifah atau ingsun yakni syaraf rasa yang berada dalam kulit daging dan bersentral pada titik tertentu yakni antyara 2 alis mata, pusat dada, bawah pusar dan pada telapak tangan
  (2) Daya dari sedulur papat yaitu kakang kawah adhi ari-ari, darah ibu dan puser (potongan tali pusat )
(3) Daya dari sedulur pancer (baying-bayang manusia ) atau kumayan
  (4) Daya batin manusia ( cipta, rasa dan karsa) 

Daya dari pusat inti latifah ada pada 7 tempat yakni 


  (1) Adhara terletak di atas dubur
  (2) Adhisthara terletak diantara kemaluan dan pusar
  (3) Manipura terletak pada pusar
  (4) Anchara terletak pada dada (hati)
  (5) Wisudhi terletak pada tenggorokan
  (6) Ayana terletak diantara 2 alis mata
  (7) Sahasraya terletak pada ubun-ubun (puncak otak)


Ketujuh puncak daya itu di sebut padma atau cakra (putaran) dan semuanya menyatu dalam putaran yang terus menerus melalui 3 pusat syaraf (nadi). Urat syaraf poko berada pada jalur tulang belakang, dimulai dari bawah naik ke atas menembus pusat-pusat mitis tadi dan berakhir diantara alis. Dua urat syaraf yang lebih kecil melingkar seperti lingkaran ular , dari kiri ke kanan untuk lain . Keduanya melingkar naik ke atas menuju tempat diantara kedua alis dengan melingkari tiap pusat mitis tanpa menembusnya sampai keduanya bertemu di tempat diantara kedua alis , lalu berpisah lagi, yang satu dari sisi kiri memasuki lubang hidung kiri sedangkan yang lain dari sisi kanan memasuki lubang hidung kanan. Menurut kepercayaan sedulur papat itu setiap 35 hari sekali di berikan makanan berupa jenang merah putih, jajanan pasar, dan sesuai weton kelahiran dan sebelumnya di dahului dengan mengurangi tidur dan berpuasa.

Kemampuan melihat Nur Rajah Kalacakra adalah sebagai berikut


(1) Dapat merupaka pertanda atau peringatan tentang akanterjadinya sesuatu, missal kesusahan, kebahagiaan dan sejenisnya, terlihat bersit nurani sekelebat yang berwujud berkas-berkas cahaya pancamaya, misal


  * Bersit warna putih, pertanda bahwa persoalan yang di hadapi saat itu sifatnya merupakan tindakan social akan berhasil dengan memberikan nasehat yang muncul dalam angan-angan saat berikutnya setelah cahaya terlihat

  * Bersit cahaya merah, pertanda bahwa sesudah melihat dalam waktu yang tidak terlalu lama paling lama 1 minggu segala apa yang di niatkan atau yang di butuhkan akan terkabul

  *Bersit cahaya kuning, pertanda bahwa segala hasil karya yang di lakukan untuk memenuhi kebutuhan    hidup akan membuahkan hasil dan bisa datang tiba-tiba dan di luar dugaan

  * Bersit cahaya hitam, pertanda akan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan atau tidak menyenangkan

  * Bersit cahaya hijau, pertanda akan mendapat hal-hal yang menguntungkan

  * Bersit warna abu-abu, pertanda akan mengalami kegagalan , tertipu atau di khianati

  * Bersit warna biru, pertanda akan menerima kebaikan dari pihak lain

  * Bersit warna ungu, pertanda akan mengalami halangan, kesialan, atau pertengkaran.

  * Dalam ilmu kanuragan warna-warna cahaya hidup ini bila di munculkan dalam angan-angan dapat dimanfaatkan untuk memperlemah pertahanan lawan




Simbol ini menggambarkan 8 watak mata angina sebagai lambang kekauatan alam semesta yang terdiri dari 8 anasir; bumi, matahari, bulan, bintang, lautan, angina, api dan kabut dan di manifestasikan sebagai 8 jalan utama untuk mencapai alam kehidupan yang memiliki budi luhur; benar dalam ucapan, perbuatan, mata pencaharian, konsentrasi, pengertian, daya upaya, dan pikiran

Rabu, 18 Januari 2012

~~**Punika Djantur Wa Kala Mur**~~


 
Awighnam astu namas idem

ANDRE JOVANO

Kala awang-awang ana bumi langit, nanging Sang Hjang Wisesa ingkang kotjap sarta djumeneng samadi satengahing djagad. Sang Hjang Wisesa mireng swara kadi genta, sarta anon tigan, gumantung neng awang-awang, sinangga ngasta pinusti dadi telung prakara, saprakara dadi bumi langit, rong prakarane dadi tedja lan tjahja, katigane Manik Maja. Mangka Manik dadi papat. Mangka papat iku ming Batara Guru uger-ugere, kang pinangka gegentene Sang Hjang Wisesa, Winenang andadekake isining bumi, sarta Winesik saliring Wadi.
Mangka sasirnaning (samuksane) Sang Hjang Wisesa, Batara Guru akarja tetimbangan garwa wasta Dewi Uma, nunten ajoga para dewa 30 lan sarta sadjodone. Nunten bumi pisah lan akasa. Hjang Pramesti nunten amatah dewa nawa sanga amrih djedjeging bumi, sarta gunung Djamurdipa wus warata. Nunten Batara Guru ajasa kahjangan lan kaswargan, lan saisine. Mangka Sang Hjang Pramesti anjatekaken djenenging lanang lan wadon, lan garwa Dewi Uma, reta kerut tan ketadhahan, mila wonten Batara Kala Hjang Pramesti adeduka mring garwa Dewi Uma, mila wonten Batari Durga djodo lan Kala. Nunten Hjang Guru anitahaken redjaki Martjapada Mendang Kamulan. Mila Batara kala minggah mring Suralaya saputra garwa balane.

Iki Sampurnaning Pudja
Hong prajoganira Sang Hjang, Akasara lawan Pratiwi; midjil joganira Sang Hjang, agilang-gilang ing siti; binu aneng samodra, kumanang alembak-lembak; ana daging dudu daging, ana getih dudu getih; murub mangarab-arab; anekaken prabawa, ketug lindhu lan prahara; lesus agung aliweran, geter pater tanpa tara; murub ingkang Kala Rodra, gumesang aneng Triloka; nguniwah Batara Guru, Awignam astu na purnama sidi, Hong na muna maswahah.

Iki Santi Purwa
Hong Ilaheng dinuk aku, purwanira ring pustaka. Ginutuk ing Padmackra, ja ta pinangka sirahmu. Ginutuk ing Kuramejan, ja ta kang dadi rambutmu. Ginutuk sireng Panelan, ja ta pinangka bathukmu. Ginutuk ing Rengaswastra, ja ta kang dadi aslimu. Ginutuk ing Rengaswastra ja ta kang dadi idepmu. Ginutuk ing Surjakanta, ja ta kang dadi netramu. Ginutuk sireng ing Kilat, ja ta pinangka kedepmu. Ginutuk sireng Manila, ja ta kang dadi kupingmu. Ginutuk sireng Momaka, ja ta kang dadi pipimu. Ginutuk sireng Penojan, ja ta pinangka pasumu. Ginutuk ing Langkapwastra, ja ta kang dadi tutukmu. Ginutuk ing Redjawastra, ja ta kang dadi untumu. Ginutuk ing Wadjalidah, ja ta kang dadi ilatmu. Ginutuk sireng Penawan, ja ta pinangka telakmu. Ginutuk ing Wadjasumeh, ja ta pinangka djanggutmu. Ginutuk Sidang penawan, ja ta pinangka uwangmu. Ginutuk ing Wesipanggak, ja ta kang dadi gulumu. Ginutuk Wesigulmara, ja ta kang dadi baumu. Ginutuk sireng Tjandrasa, ja ta pinangka tanganmu. Ginutuk ing Palempengan, ja ta pinangka salangmu. Ginutuk ing Ambalwastra, ja ta pinangka dadamu. Ginutuk Sarwasendjata, ja ta kang dadi igamu. Ginutuk  sireng Padupan, ja ta pinangka atimu. Ginutuk sireng Genitri, ja ta kang dadi amperumu. Ginutuk ing Sandiwidi, ja ta kang dadi djantungmu. Ginutuk Segara rampenan, ja ta pinangka wetengmu. Ginutuk sireng Lulita  ja ta pinangka ususmu. Ginutuk ing Rantjangwastra ja ta pinangka ototmu. Ginutuk ing Wadjasari, ja ta pinangka balungmu.
Ginutuk Pantjurantjah, ja ta pinangka dakarmu. Ginutuk ing Bakawastra, ja ta kang pinangka wangkongmu. Ginutuk sireng Deksana, ja ta kang dadi pupumu. Ginutuk ing Bindiwastra, ja ta pinangka garesmu. Ginutuk ing wadjakiwal, ja ta kang dadi sikilmu. Ginutuk ing gunung wadja, ja ta pinangka awakmu. Ginutuk ing Gorawastra, ingkang pinangka gedhemu. Ginutuk ing Bramawastra, ja ta pinangka napsumu. Kumedjot molah ambekan, angdeg-kagiri-giri; awakmu wegah anuger, asalit adjata gimbal; angerik anguwuh-uwuh, sira mulat amangetan; sakjehning para djawata, kagegeran dening sira, awedi ndeleng rupamu, aranmu si Kama Salah. Awighnam astu na purnama sidi. Hong na muna maswahah.

Iki Aksara ing Bathuk
Nga                 Tha                  Ba                   Ga                   Ma
Nya                  Ja                     Dja                  Dha                 Pa
La                    Wa                  Sa                    Ta                    Da
Ka                   Ra                   Ca                   Na                   Ha

Iki Aksara ing Telak
Sang Kala Lumerang, sangkaning lara, Wisnu kena ing lara, lungguh ing otot ngarepmu, kang alara mulja, mulja dening Batara Guru, Guru kena ing lara, lungguh ing tutuk, turune lumamah, lan saranduning awak, kang alara mulja, mulja dening Sang Hjang Wenang, Sang Hjang Wenang tan kena ing lara, maring Sang Hjang Tunggal, kumpul panunggaling rasa, rasa tunggal lan djati, djati tunggal lan rasa, rasa djati mulja, mulja saking ingkang Wisesa. Hong awignam astu namas idem.

Iki Sastra kang Ana Dhadha
*aran: Sastra Pinedati*
Hong Ilaheng, saweddana Durga Kala; saweddana Kretidara, tumurun aku ring madya; awor ring dewata mudja, adji Sang ati-ati; Amaradjata adjiku,  Aamaradja ta wuwusku; Amaradja Djaramaja, Aamarni Rinumaja, Jasiraja Pararasija, Amidosa Sadumedja; Amidoro Rodomeja, Jami dosa sadumeja, Jasijaja Palasija, Jasirapa Rahasija, Jasipapa Parasija, Amidosa Sadumeja, Nawanggana Nawanggeni, si Kutara si kulari; si Brenggala si Brenggali, si Bitapa si Betapi, si Bintaka si Bintaki, si Durbala si Durbali, si Rumaja si Rumaji, si Udjaja si Udjaji; si Srimaja Gedahmaja, si Dajudi si Dajuda; Adijoda Anijoda, Andajudi Niudaja, Hong na muna waswahah.

Iki Sastra Trusing Gigir
Hong joganira, Sang Hyang Pratiwi midjil, kumala Batari Uma, midjil saking ilmu-ilmu; angusap sariranira, midjil ta Sang Hjang kusika, midjil ta Batara Gagra, saking balung kamulanja, ana kang Batara Metri, saking otot kamulanja, midjil Sang Hjang Pritandjaja, saking sungsum mulanira.
Kinen agawe lokasa, Kusika mila alumeh, tinut denira Sang Gagra, Hjang Gagra milu alumeh, tinuti Sang Hjang Kurusa, Kurusa milu alumeh, tinut dene Sang Hjang Metri, Hjang Metri milu alumeh teher midjil ta wikalpa, neher ingapat-ipatan; Kusika mesat mangetan, atemahan dadi emong, Hjang Gagra mesat mangidul, atemahan dadi sarpa, Kurusa mesat mangulon, atemahan dadi buta; Hjang Metri mesat mengalor, atemahan dadi dengen, Kuneng Sang Hjang Pritadjala, ingkang kinen gawe loka; angendjali ring Batara kang riwe arerewejan; dinilat arasa asin, atemahan dadi ujah, Kuneng tang Batari Uma, singangsa sinungsang; andjerit angrik anguwuh, aselit adjata gimbal; nguniweh Batari Durga. Hong na muna maswahah.

Iki Santi Kukus
Hong, Purwa janti jogja janti, kaget Hjang Mandalagiri, sinurak para djawata, amidjilaken kasakten; ana banju teka wetan, aputih mili mangulon, angileni Batari Sri, Guru warda wardi dadi. Hong, Purwa janti jogja janti, kaget hjang Mandalagiri; sinuruk para djawata, amdjilaken kasekten; ana banju teka kidul, abang mili mangalor; Batari Sri. Guru warda wardi dadi. Hong, Purwa janti jogja janti, kaget Hjang Mandalagiri; sinurak para djawata, amidjilaken kasekten, ana banju teka kulon, kuning amili mangetan, angileni Batari Sri, Guru warda wardi dadi. Hong, Purwa janti jogja janti, kaget, kaget Hjang Mandalagiri; sinuruk para djawata, amidjilaken kasekten; ana banju teka elor, ireng amili mangidul; angileni Batari Sri, Guru warda wardi dadi. Hong na muna maswahah.

Iki Bala Srewu
Hong, Ilaheng pinangka ranku, ija Sang Hjang Tjandusekti; ija Sang ila-ila, santi guna ila warna; Sang Hjang Aju palungguhku, sang Hjang Taja pangadegku, naga radja ing dhadhaku, naga milet ing guluku guwa rungsit ing tjangkemku geter-geter panabdaku, gelap ngampar suwaraku, iduku tawa sakalir, netraku sang surya kembar, kilat barung ing tjahjaku, Durga Durgi ngiring aku, Sang Kala rumekseng aku; buta kabeh ring omahku kaomahan dengen kabeh; kang sun deleng padha lengleng, sik tak pandeng teka bengeng. Hong na muna maswahah.

Iki Banjak Dhalang
Hong, Pasang tabe, sun angidung, kidungku si Banjak dhalang, ngendi nggonira alinggih, Radja sang Kumintir-kitir, amreteng sira praknja, angupita nara wangsa, gendera pinatu barang, ulung kenjaring prasada, sira kaki atang hija, angadega wringin sungsang ameranga ampel gadhing tugelen gawenen sanggar, sanggar-sanggar pangruwatan, pangruwatan udjar ala, angruwat sara supata, sapataning sanak tuwa, angruwatan supataning wong atuwa, angruwata sagunging mala tjintraka, angruwata lara raga, laragung lara wigena, gelah telutuh ilangah, katuta ing barat lesus, lebur adjur muksa ilang, ilang, saking tan ana. Hong na muna maswahah.
Hong, Latak rowang marang sendhang, sendhang si Manadala, manadalane wong mengari, anake Ki Ulangkembang, kudu bisa ngadji, dukuhe Ki empu ana, bale tanpa galar, ana ta kang sumur bandung, timba kepala, tetali ususing maling, siwur burut tanpa kantjing, garane winado-adji, sulur kamudi waringin, banjune ludira muntjar, iline mangetan, ala-ele katuta ing banju mele, lebur adjur musna ilang.
Hong, Latak rowang, ana djaka amet kembang, amemenek angutapel den kebaki djedjompange anon si perawan liwat, dinulu rupane aju, perawan angaku rara, lah ta mara ing rerawan, anonton kintel muni, ting tjeremplang ting tjeremplung, agiro kang kodhok wijo, tingkahe srangkal-srangkal, sedyane arep mauta, anuata lara roga, laragung wigena, tetangga jen angrungokna, wong angidung Banjak dhalang saben dina tampa dadar, jen ana perawan tuwa, utawa djedjaka tuwa, dumadakan gelis krama, jen ana wong gering kedadak, dumadakan gelis mulja, jen ana kang nedja, amundur tanpa karana, sampurna ing Banjak dhalang, kang angidung temah sampurna.
Hong, Latak rowang mring bengawan, anontonlarung keli, larunge si banjak dhalang, loro sanake den larung, ing bendjang ing Djamurdipa, akuta ing Kurajana, ana manuk tjutjuk wadja, anutjuka larung keli, iberna gawanen lunga, awighnam astu na purnama sidi. Hong na muna maswahah.

Iki Padusaning Kala
Tandjung adus banju ning, banju midjil ing talaga manik, Uma kang ngedusi, Durga kang ngosoki, Wisnu kang angentas.

Iki Wisikaning Kala
Kala den eling sira, sira muliha mring Djati-sorangan; asalira teka ngora, sira muliha menjang ngora; asalira teka ing djati, ija muliha maring djati; Ingsun Sadjatining Wisesa.

Iki Kudanganing Kala
Hong, Anake Bi Kuramejan. Agedhe asesedepah, Bang bang bus, pastika maja-maja, ana maja-maja katon, kang anonton milu katon kang tinonton ora katon.
Bjang-bjang bjos, golong-golong gumelompong, gulung-gulung gumelumpung. Hong na muna maswahah.

Senin, 09 Januari 2012

~~~**WEJANGAN UREP**~~~

ANDRE JOVANO


Labeting kartiyasa punika
Awit saking pambudayaning gita dursila
Rinuwat kanthi mrihatini adrenging karsa
Ngubara lan ngumbara miyat dumununging kamitran.
Amangsuli prahara bebendu ageng
Tan ginayuh hastaning mamilat brata
Wosing rasa kang ginubel graito
Graitaning karsa, dumununging cipta.

Tan ana angkara
Tan ana rubeda
Tan ana dursila
Tan ana tandang duraka.

Jejer anyar
Gagrak anyar
Titah anyar
Jagad anyar
Sarwa gumebyar
Tan ana kang samar
Tansah suminar
Magilar-magilar
Anggelar tulusing nalar.

Budi pinilih, luhur angarih-arih
Masa wurunga karsaning Jati
Hangesti drajading titah
Hawya miruda kang kinarsa ing Gusti
Kabeh saka telenging jangkah
Kabeh awit gumelaring pratingkah
Kabeh ngemu tulusing ibadah.

Ngaminana marang donga kang pinuji
Kunjuk Ing Ngarsaning Maha Ji
Humangkara
Humangrasa
Hamungwat trikarsa
Hamungwing baskara
Hamungwing jumantara.

Ngadep Rabbul Ngalamin
Welasing Gusti
Ingkang Maha Sih.

Muliha, muliha, muliha
Muliha mring pancardriya
Balia mring panaraga.

Mawanti-wanti, angati-ati
Aja kongsi keri nunggang jung baitagung,
Kang dinayung malaikat hambaruyung
Dipandhegani dening para nabi
Sinangga mring para wali.

Kinebakan jamna utami
Mulyaning manusa jati
Kang pinilih dening Gusti
Kapilah saking ngalamipun
Awit driyanira mung nyawiji,
Kabeh kagungane Gusti.

Mula aja noleh
Mula kudu mantheng
Katuta baitagung
Nyuwuna palilahe Hyang Agung
Awit kuwi Kagunganipun.

Aja ninggal trapsila
Aja nggugu kersaning pribadi
Aja dumeh wus katam kitabe
Najan wus apal dongane
Najan wus guntur sujude
Ning durung kaparingan ridhaning Gusti.

Mula dudu rapale, ning atine
Mula dudu wujude, ning lire
Mula dudu jlegere, ning makripate.

Poma, sindukara karaning ronsih
Sawunging swara sawang suwung
Gebyaring gebyur gambyong grambyangan
Rinakit, rinasa, rapita, retyakaning radya.
Jung, jung baitagung
Wus tinata ambaruyung
Lir grimis handaridis
Re-rep pantiarsaning resep
Pindha tilasing atilas tulus.

Tlusurana sing tlaten
Anggita gitaning suksma
Andungkap sunaring padhang
Njingglang ngawang-awang.
Hamung sawiji kang kinanthi
Wahyuning Hyang Widhi,
Kang pinuji-puji.
Wus pupus barang kalire.

WAHDATULWUJUD

Wujuding wijil wahyuning wangsit
Wiyoto woting waskitha kang winasis
Jajaning janma jatining jasad
Jumujuging jaladara jantra jinajah.
Wujud keluarnya ilham
melalui orang yang mengerti yang terpelajar
dada manusia sejatinya jasad
menuju ke alam jajahan

Amrih amining amaranti
Amina mastani mantra mastadi
Samudananing samudra samun
Sesongaran sasat susantiningrum.
supaya perkataanya merata
boleh dikatakan mantra mastadi
berkedok berlindung di samudra ( mungkin mengatasnamakan kekuatan mayoritas)
sombong/ugal ugalan menjadi pedomannya

Mungguh asmaning mung kanggo mupus
Dipeh prana nalika daruna dumateng
Tebining dhandhaka anyatrani
Lubering ludira anebaki daruni.
namanya hanya untuk meredam
cuma pas bisa melihat waktu kesedihan datang
luasnya “dhandhaka” menyertai
lubernya darah memenuhi hati/kesedihan

Najan hamung kinanthi sih utami
Awit diniyati tan kenging rinuyit,
Anggraitaa murih wekasanipun jrih
Muncrat handalidir mring bantala.
walau hanya dengan kasih sayang
sudah diniyati sebagai pegangan
merasalah supaya akhirnya takut
menyembur membasahi/mengaliri bumi(sujud syukur)

Tiba grahaning Hyang Suksma
Memitri awit saking nggenira
Njangkah tan angoncati
Tibaning Rohul Kudus amrih miranti.
tiba ke tempat Hyang Suksma
melihat karena keteguhanmu
yang berjalan tanpa meninggalkanNya
keluarnya “rohul kudus” supaya dapat berguna

Jinantra ontran-ontran kang amurwat
Murwating angkara murka
Nabrak, nunjang, ngobok-obok
Nggelar kadurjanan
Ngobrak-abrik tatanan
Salang-tunjang
Gede-cilik tanpa wirang.
pada jaman kerusuhan yang tak lazim
lazimnya angkara murka
sengaja menabrak, menggeser, mengobok obok(tatanan)
mengadakan hal hal yang bertentangan dengan adat (maling,jambret dsb)
mngorak abrik tatanan yang berlaku (hukum adat)
berebutan
tua muda tak punya malu

Ana jalma mimba Gusti
Ngaku Allah sinarawedi
Ngendi ana titah padha karo Gusti
Kadunungan iblis pinasthi.
ada manusia mengaku aku Tuhan
dan mengaku sodara Allah
mana ada manusia(ciptaan) mengaku sama dengan Tuhan
dapat dipastikan itu iblis/setan

Manunggal kuwi ‘ra teges sami
Hamung celak raket ring Gusti
Hamung Allah kang pinuji-puji
Ya mung jalma najan wali.
bersatu bukan berarti sama
hanya dekat dengan Tuhan
hanya Tuhan Allah yang patut disembah
semua hanya manusia walau wali sekalipun

Nyuwun ngapura mring Hyang Widhi
Wani nranyak mring Malikul’alam
Wus madhani Sing Gawe Urip
Dudu kuwi wahdatulwujud.
minta ampunan kepada Tuhan
karena berani kepada sang Pencipta Alam
sudah menyamakan diri dengan Tuhan
 bukan itu arti wahdatulwujud

Sing bener kuwi ya mung aran titah
Ora samar angambrah-ambrah
Aja nerak hukume lumrah
Kawistra ora narimah.
yang benar itu cuma dapat disebut hamba
yang tidak kuatir yang berlebihan
jangan melanggar hukum alam
nanti akan terlihat tidak bersyukur

Duh Gusti Kang Maha Lestari
Mugi kersa paring lubering pangastuti
Kang samya memesu ring karsaning Gusti
Najan sasarsusur yekti.
ya Tuhan yang Maha Langgeng/tak pernah mati
smoga sudi memberi limpahan Rahmat
kepada orang yang mendekatkan diri melaksanakan kehendakMu
walau masih banyak salah dalam menjalaninya

WAHDATULWUJUD

Wujuding wijil wahyuning wangsit
Wiyoto woting waskitha kang winasis
Jajaning janma jatining jasad
Jumujuging jaladara jantra jinajah.
Amrih amining amaranti
Amina mastani mantra mastadi
Samudananing samudra samun
Sesongaran sasat susantiningrum.
Mungguh asmaning mung kanggo mupus
Dipeh prana nalika daruna dumateng
Tebining dhandhaka anyatrani
Lubering ludira anebaki daruni.
Najan hamung kinanthi sih utami
Awit diniyati tan kenging rinuyit,
Anggraitaa murih wekasanipun jrih
Muncrat handalidir mring bantala.
Tiba grahaning Hyang Suksma
Memitri awit saking nggenira
Njangkah tan angoncati
Tibaning Rohul Kudus amrih miranti.
Jinantra ontran-ontran kang amurwat
Murwating angkara murka
Nabrak, nunjang, ngobok-obok
Nggelar kadurjanan
Ngobrak-abrik tatanan
Salang-tunjang
Gede-cilik tanpa wirang.
Ana jalma mimba Gusti
Ngaku Allah sinarawedi
Ngendi ana titah padha karo Gusti
Kadunungan iblis pinasthi.
Manunggal kuwi ‘ra teges sami
Hamung celak raket ring Gusti
Hamung Allah kang pinuji-puji
Ya mung jalma najan wali.
Nyuwun ngapura mring Hyang Widhi
Wani nranyak mring Malikul’alam
Wus madhani Sing Gawe Urip
Dudu kuwi wahdatulwujud.
Sing bener kuwi ya mung aran titah
Ora samar angambrah-ambrah
Aja nerak hukume lumrah
Kawistra ora narimah.
Duh Gusti Kang Maha Lestari
Mugi kersa paring lubering pangastuti
Kang samya memesu ring karsaning Gusti
Najan sasarsusur yekti.

Jumat, 30 Desember 2011

~~**KASAMPURNANENG JIWO UGO ROGO INGSUN SEJATI**~~

ANDRE JOVANO

Suci kodrat sejati  

Nyawiji suci jumeneng sejati
Roso suci sejati alenggahan roh suci
Kuncup sejati mulyo sejati
Roso kumala handarbeni
Suci jroning sejati
Kawruh roso sejati
Pepager suci jumeneng sejati
Cahyo suci rohing sejati
Tumeko ning kencono suci
Netepi roso kang suci
Gugah prandito kasuwargan suci
Tumama ning roso pribadi
Nyembah dununge Gusti
Manah sarira roso sejati
Cahyo suci kang madangi
Poro suci nyambut sejati
Kerso suci jroning sejati
Tumeko ning papan kang suci
Mandap asor nyawiji sejati
Sembah sungkem roso suci sejati
Pinaring ijin jejere suci
Jumeneng suci Ingsun Sejati
Sejatine Ingsun Ingsun Sejati

Suci kodrat sejati

Ngesteni suci jumeneng sejati
Pinaringan suci jumeneng suci Ingsun Sejati
Kanggo siro jejere suci
Nambahi roso kang suci
Jejere suci Ingsun sejati

Cahyo pribadi rasaning diri

Gumregah gondo kang suci
Tumindak suci pambudi luhur
Gegayuhan suci tinatah sejati
Alenggahan suci Ndonyo rubedo
Kalebu kodrat pinaring sejati
Kesebut cipto suci jalmo sejati
Manungso manunggaling roso
Roso suci sejati nyembah Gusti
Gusti suci pinaringan sejati
Jumeneng suci Ingsun Sejati
Sejatine Ingsun Ingsun Sejati
Dununge suci ning roso pribadi nutupi jroning sejati
Alenggahan roh suci sejati
Ngugah roso suci sejati

Suci kodrat sejati

Wujud suci roh sejati
Pinaringan Gusti
Nylimuti sabdo sejati Ingsun Suci Sejati
Ugo kuwoso suci Ingsun Suci Sejati
Nampani kodrat suci sejati
Wujud manungso tinampo suci
Jejere suci Ingsun Suci Sejati
Pinaringan napsu suci sejati
Kanggo cipto manungso sejati
Wujud godo Ndonyo rubedo
Kang alenggahi manungso suci
Tinampo lelakon kang dadi coban
Pinaringan urip lan panguripan
Mlebu kEsebut alam nyoto
Goleki kang dadi kodrat suci sejati
Kodrat suci sejati
Kang bakal nggowo luhur
Kang bakal nggowo jumeneng suci Ingsun Sejati
Sejatine Ingsun Ingsun Sejati
Cahyo suci panuntun sejati

Suci kodrat sejati

Jumeneng sejati roso suci sejati
Ngawe luhur roso pribadi
Kelebu sifat suci Ingsun Suci Sejati
Roso suci sejati
Kelebu pinaringan suci sejati
Kesebut cahyo suci sejati
Sejatine Ingsun Ingsun Sejati

Suci kodrat sejati

Pepadange cahyo suci sejati
Ngawe tentrem roso pribadi
Sareh lelampahi urip
Urip kang kesebut lelakon
Rahayu jroning sejati
Suci kodrat sejati
Jejere suci Ingsun Suci Sejati
Kelebu ijin suci jumeneng sejati
Pasowanan cahyo sejati
Patrap suci Ingsun Sejati
Jumeneng suci Ingsun Sejati
Sejatine suci Ingsun Suci Sejati

Suci kodrat sejati

Nuntun urip suci sejati
Condro kaloka wadi pribadi
Jejere suci Ingsun Suci Sejati
Mageri kabeh godho rencono
Ngawe suci roso sejati
Sejatine urip Ingsun Suci Sejati
Suci kodrat sejati
Kesebut kodrat suci Ingsun Suci Sejati
Tinatah napsu godho lembono
Alenggahi Ndonyo rubedo
Kesebut inten ning jero Segoro
Ndonyo rubedo kang akeh warnane
Siji kasebut dalane Ingsun Suci Sejati
Kesebut suci soko kerso Ingsun ugo
Kesebut ngesti suci Ingsun Sejati lan
Kesebut pinaringan ijin suci Ingsun Suci Sejati
Suci kodrat sejati
Suci jumeneng sejati
Jumeneng suci Ingsun Sejati
Sejatine Ingsun Ingsun Sejati

Suci kodrat sejati

Kesebut kodrat suci ngesti sejati
Kesebut kodrat suci Ingsun Sejati
Kesebut kodrat suci ijin sejati
Kabeh kalebu pinaringan suci
Kabeh kalebu sabdo suci
Kabeh kalebu kuwoso suci
Jumeneng suci Ingsun Sejati
Kesebut suci jroning sejati
Alenggahi cahyo suci sejati
Tumapak ning kasuwargan suci
Kesebut Alam Suci Sejati
Kabeh pinaringan suci Ingsun Sejati
Sejatine Ingsun Ingsun Sejati

Sak kaliring cahyoningsun kang suci kawengku dene dad Ingsun
Ateges

Roso sejati Ngawe rino panguripan kang luhur ugo suci
Cahyo suci Ingsun Sejati
Mlebu ning roso suci pribadi
Kesebut cahyo dat suci Ingsun Sejati
Dununge suci roso suci pribadi
Pribadi sira ngesti suci Ingsun Sejati
Jejere suci roso suci pribadi
Ngasta dununge Alam ghoib
Kang dadi parane wadi
Dat Ingsun Suci Sejati
Ginaris suci jroning pribadi
Roso suci kang sejati
Sejatine roso kang anampani
Rohing dumadi cahyo sejati
Kawengku kasuwargan suci
Jroning sesami kang suci
Pambudi luhur kang angesteni
Roso suci pribadi kang nyekseni
Dununge suci Ingsun Sejati
Jumeneng suci Ingsun Sejati
Sejatine Ingsun Ingsun Sejati

Hiyo Ingsun dadte suci kang tunggal
Ateges

Jumeneng suci Ingsun Sejati
Sejatine Ingsun Ingsun Sejati

Kasebut

Ingsun Suci Sejati kang tunggal

Ateges

Tunggal jroning suci sejati
Tunggal jroning sejati
Tunggal cahyo suci sejati
Ingsun Suci Sejati jejere suci
Inti suci kasuwargan suci sejati
Dat suci jumeneng sejati
Cahyo suci agung jejere suci sejati
Jumeneng suci Ingsun Sejati
Kesebut tunggal jroning suci
Kesebut suci jroning sejati
Cahyo suci sejati
Jumeneng suci Ingsun Sejati
Kesebut ingkang moho suci
Kesebut ingkang moho tunggal
Jumeneng sejati Ingsun Suci Sejati
Sejatine Ingsun Ingsun Sejati

Hiyo Ingsun dadte suci jumeneng sejati
Ateges

Kabeh kang kalebu pinaringan suci soko kerso
Ingsun Suci Sejati kesebut suci jumeneng sejati
Kabeh kang kalebu Ingsun Suci Sejati
Kesebut suci jumeneng sejati
Kabeh kang kalebu cipto suci Ingsun Suci Sejati
Kesebut suci jumeneng sejati
Kabeh kang kalebu suci jumeneng sejati
Kesebut jumeneng suci Ingsun Sejati
Sejatine Ingsun Ingsun Sejati
Suci jumeneng sejati
Sejatine jumeneng suci

Kesebut

Suci jumeneng sejati Ingsun Suci Sejati
Suci jumeneng sejati cahyo suci sejati
Suci jumeneng sejati sabdo suci sejati
Suci jumeneng sejati dayo suci sejati
Suci jumeneng sejati pangapura suci sejati
Suci jumeneng sejati ijin suci sejati
Suci jumeneng sejati pangestu suci sejati
Jumeneng suci Ingsun Sejati
Sejatine Ingsun Ingsun Sejati